Dari Calon Mandeh ke Mandeh Penuh Waktu: 5 Bulan Roller Coaster

Wuidih, sudah hampir setengah tahun berlalu sejak terakhir saya memperbarui laman blog ini. 🙀

Ada apa gerangan?

Terlalu sibuk dan terlalu shock menjadi ibu baru adalah penyebabnya. 🙈

Transisi dari calon mandeh menjadi mandeh sebenarnya benar-benar suatu proses yang menguras waktu, tenaga, dan emosi saya.

5 bulan pun tak terasa sudah berlalu sejak AF junior rilis ke dunia ini. Sungguh sebuah perjalanan bak roller coaster yang akan jadi sangat panjang kalau diceritakan dalam satu post.

Yang sudah baca post Ade sebelumnya tentunya tahu bahwa proses melahirkan AF junior pun penuh drama, dari ditolak bidan sampai terancam sesar, dan akhirnya berakhir dengan vakum dan pengguntingan perinium. Bye bye gentle birth, haha.

Meski sudah banyak membekali diri dengan berbagai macam ilmu terkait proses melahirkan dan mengurus bayi, pada praktiknya, sungguh bagi saya sangat sulit. Terlalu banyak hal yang terjadi di luar ekspektasi saya dan teori yang saya hafal.

Ada banyak hal “pahit” yang tidak disebutkan di buku mana pun yang telah saya baca. Menjadi seorang ibu baru lebih sulit dari yang saya bayangkan. Saya jadi melihat ibu saya dengan rasa hormat yang baru karena ketangguhannya.

Tidak salah Rasulullah menyebut ibu tiga kali sebelum ayah, karena apa yang dilalui seorang ibu bukan sesuatu yang sederhana. Sungguh, tidak lebay. Ibumu melalui banyak hal yang tidak “manis” untuk membesarkanmu.

Ada banyak sekali hal yang ingin saya ceritakan soal menjadi ibu baru selama 5 bulan ini. Sudah kangen rasanya menulis panjang lebar.

Ada berbagai episode drama yang terjadi sepanjang adaptasi saya menjadi mandeh penuh waktu.

Stay tune, insyaallah dalam waktu dekat saya akan berbagi soal drama menyusui dan jaundice pada bayi yang menjadi episode pertama drama mandeh baru ini.

Iklan

Menemani Istri Melahirkan

Tanggal 13 September 2017 dini hari,

Riri pembukaan 2 dan tanda-tanda dari bayi menunjukkan hasil normal. Dokter membolehkan untuk pulang. Namun beberapa jam kemudian kontraksi muncul. Saya menggunakan aplikasi babycenter untuk memantau kontraksi.

Pada awalnya, kontraksi muncul tidak beraturan dan selang waktunya cukup panjang. Namun lama kelamaan selang waktu makin cepat dan rasa sakit makin kuat. Firasat mengatakan bahwa pembukaan semakin besar, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke klinik bidan Jeanne.

Tanggal 13 September 2017 malam hari,

Sesampainya di bidan, bidan langsung menempelkan doppler untuk mengetahui kecepatan detak jantung janin. Namun hasilnya di kisaran 160 – 180. Bidan juga memeriksa bukaan yang ternyata tidak bertambah dari sebelumnya.

Bidan yang sedang jaga pun terlihat panik dan tidak mau membiarkan kami berlama-lama di sana. Detak jantung yang tinggi menunjukkan bahwa si bayi sedang stres di dalam perut dan itu sangat berbahaya. Bidan pun langsung merujuk kami ke rumah sakit untuk monitoring lebih baik dengan menggunakan CTG dan untuk berjaga-jaga jika tindakan CS diperlukan.

Akhirnya kami memutuskan untuk meluncur kembali ke RS Mitra Keluarga, dengan pertimbangan rekam medis kehamilan Riri selama ini ada di situ. Sepanjang perjalanan tersebut Riri terlihat kesakitan dan dia berusaha menenangkan diri dengan mendengarkan murottal Alquran.

Sesampainya di Rs Mitra Keluarga, kembali di pasang alat CTG untuk memonitoring detak jantung janin. Selain itu juga di lakukan pengecekan pembukaan. Dari hasil CTG menunjukan hasil normal (alhamdulillah). Dan pembukaan ternyata sudah pembukaan 3 menuju 4. Akhirnya dokter menginstruksikan untuk dirawat dan persiapan melahirkan.

14 September 2017 dini hari,

Kian jam rasa kontraksi makin terasa sakit. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya, mungkin bisa dibilang rasa sakit seperti kita mules karena mau buang air besar, namun tidak boleh mengejan. Tapi rasanya lebih sakit lagi rasanya dari pada itu 😨. Belum lagi ruang bersalin sebelah ada yang sedang proses melahirkan lengkap dengan histeria dan teriakan-teriakan. Untungnya Riri membawa mp3, jadi sedikit bisa menyumbat pendengarannya biar tidak berpikiran yang aneh-aneh.

Sekitar jam 4.30 dini hari, pembukaan sudah menunjukan angka 9 menuju 10. Saat itulah bidan yang sedang bertugas memanggil dokter. Selama menunggu dokter tidak terhitung berapa kali kontraksi muncul, dan tidak terhitung pula luka yang ada di tangan saya akibat remasan tangan Riri. Tapi saya coba abaikan dengan berpikir itu bisa mengurangi rasa sakitnya.

Saat dokter datang maka proses melahirkan pun berjalan. Pertama dokter melakukan pengecekan kemajuan sang bayi. Saat itu posisi kepala bayi sudah di panggul, namun karena lebar panggul kurang lebar untuk kepala bayi, maka dokter menyarankan untuk menggunakan vakum.

Persiapan vakum pun dimulai. Alat-alat disiapkan dan juga jalan lahir. Salah satunya adalah menggunting perenium. Kami harap saat proses mengguntingnya memalui izin Riri, namun dokternya sangat kreatif dan langsung menggunting pereniumnya ke bawah.

Setelah sekian lama berjibaku dengan vakum, akhirnya lahirlah anak kami dengan berat 3kg, tinggi 46cm. Sesaat setelah bayi keluar, bayi dibersihkan sebentar untuk mengeluarkan cairan, dan langsung diletakkan di dada sang ibu untuk proses IMD.

BERSAMBUNG…

Menjelang Istri Melahirkan

Tidak terasa riri sudah menginjak umur kehamilan 36 minggu. Pada waktu itu saya sudah merencanakan untuk mengungsi ke rumah orang tua yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dari kontrakan.

Beberapa hal yang pasti di persiapkan adalah perlengkapan ibu dan calon bayi nanti saat persalinan. Berikut list yang menjadi pedoman kita:

Hospital Bag List 🎒🏥

Baby:

1. Baju NB sepasang (3pcs) 

2. Popok kain (10pcs) 

3. Bedong (5pcs) 

4. Grita (5pcs)

5. Selimut 

6. Pospak (5pcs) 

7. Kaos kaki (3pcs) 

8. Topi (1pcs) 

9. Toilettries 

10. Tisu Basah 

11. Tisu Kering 

12. Handuk 

13. Milestone baby

(Buat satu paket baju, bedong, grita, popok, celana, handuk, kaos tangan & kaki, topi taruh dalam plastik) (untuk memudahkan bidan ketika memandikan pertama kali)
Mommy:

1. Daster Busui Friendly (2pcs) 

2. Baju Busui (1pcs) 

3. Underware ukuran besar (5pcs) (Bra menyusui) 

4. Handuk 

5. Jarik (3pcs)   

6. Pembalut nifas 

7. Korset/ Grita 

8. Breast Pump

9. Kaos kaki (2pasang)  

10. Bergo (3 pcs) 

11. Dompet

12. Alat mandi 

13. Makanan (Kurma, sarkum, biskuit, buah)

14. Buku KIA (Rekam Medik)

15. Detergen 

16. Plastik cucian kotor 
Daddy:

1. Baju & Underware

2. Alat shalat

3. Fc KTP, KK, Buku Nikah, Asuransi, ATM, Uang

4. Kamera

5. Alat mandi & Handuk

6. Roll Kabel

Mulai dari minggu 36, istri di suruh diet karbohidrat dan gula, karna jika tidak besar bayi tidak akan dapat melalui jalan lahir. Karna memang budaya Indonesia itu adalah nasi sebagai makanan pokok, sedikit was was juga jika istri ada yang tidak makan nasi di jam makan. Namun lama kelamaan mulai terbiasa, dan mengganti menu malam selain nasi, misal dengan ubi, salad, dll.

Selain disuruh diet, pada masa kehamilan yang mendekati kelahiran biasanya ibu hamil disuruh banyak-banyak jalan. Untungnya jalan komplek rumah orang tua tidak seperti jalan di rumah kontrakan yang menanjak curam.

Pada masa kehamilan 38 minggu, dokter mengatakan bahwa sang bayi sudah siap untuk dilahirkan, yang terpikirkan oleh kami adalah untuk mempercepat proses kelahiran karena ditakutkan bayi semakin besar jadi sulit untuk lahir normal. Jadi di lakukan lah beberapa ritual untuk merangsang kontraksi itu muncul.

38 minggu 3 hari pada dini hari (sekitar jam 1 pagi), saya di kagetkan oleh riri bahwa terdapat darah di pembalutnya. Karna takut terjadi sesuatu, saya bawa pergi ke rumah sakit Mitra Keluarga untuk mengecek keadaan ibu dan bayi. Sesampainya di rs Mitra Keluarga, riri langsung masuk ke ruang persalinan, karena alat-alat untuk pengecekan kehamilan terdapat di ruangan tersebut. Di ruang persalinan dilakukan CTG denyut jantung. Hal ini di perlukan untuk mengetahui apakah bayi dalam kandungan baik-baik saja atau tidak. 

Hasil dari CTG tersebut menunjukan hasil normal, sekitar 150an nilainya. Selain CTG dilakukan juga pengecekan pembukaan. Dan hasilnya ternyata sudah pembukaan 2. Menurut bidan yang bertugas, darah yang keluar tersebut bisa jadi di karenakan pembukaan. Karena hasil CTG normal dan pembukaan masih 2 akhirnya riri di perbolehkan untuk pulang.

Menurut cerita-cerita yang saya ketahui, untuk anak pertama biasanya dari pembukaan ke 2 ke pembukaan berikutnya biasanya membutuhkan beberapa hari. Pada hari itu saya memutuskan untuk pergi ke kantor. Salah satu alasannya juga untuk mengurus asuransi dan reimbursement. Tapi saat leader saya di kantor tahu istri saya sudah pembukaan 2 malah dimarahin dan disuruh pulang 😅. Tapi saya bersyukur pulang saat itu.

Lanjut: Menemani Istri Melahirkan

Sadar Privasi, Lindungi Diri dan Keluarga dari Penjahat Siber dan Penjahat Seksual

Siapa sih yang tidak punya akun media sosial di zaman sekarang? Mulai dari anak-anak sampai nenek-kakek pun lincah memainkan jarinya di dunia maya, bercengkrama dengan kerabat dan kolega nun jauh di sana. Ya, media sosial memungkinkan kita untuk mempersempit jarak yang dulu terasa sangat jauh.

Tapi, sayangnya, maraknya penggunaan media sosial ini tidak diiringi dengan melek privasi. Banyak yang tidak sadar betapa rentannya akun-akun mereka dari para penjahat siber. Banyak sekali saya temukan pengguna media sosial yang tidak sadar telah “mengekspos” dirinya sendiri, dan terkejut ketika “kelalaian” mereka menyebabkan terjadinya rentetan peristiwa yang tidak mengenakkan.

Lanjutkan membaca Sadar Privasi, Lindungi Diri dan Keluarga dari Penjahat Siber dan Penjahat Seksual

Etika Mengunjungi Kerabat dan Sahabat yang Memiliki Bayi

Awalnya, minggu ini saya berencana ingin menulis seputar kehamilan di trimester tiga, tetapi sebuah perbincangan di salah satu komunitas emak-emak yang saya ikuti menggelitik saya untuk menulis mengenai ini. Hal yang mungkin menurut kita seharusnya sudah menjadi common sense, tetapi masih banyak yang tidak tahu (atau tidak mau tahu?): etika berkunjung ke rumah orang yang memiliki bayi atau anak kecil.

“Lah, emang ada etika khususnya?”

Ada.

Berikut ini saya rangkum beberapa hal yang sering diabaikan para tamu dan membuat para emak-emak sakit gigi karena gemas. Lanjutkan membaca Etika Mengunjungi Kerabat dan Sahabat yang Memiliki Bayi

Antara Baby Blues, Depresi, dan Psikosis

Beberapa hari yang lalu, linimasa Facebook sempat ramai dengan pemberitaan seorang bayi yang dipanggil Baby J. Baby J ini tinggal di Bali dan mengalami kekerasan fisik yang parah dari ibunya sendiri. Ibunda Baby J ternyata mengidap baby blues yang sudah mengarah ke depresi pascapersalinan (postpartum depression/postnatal depression).

Ada banyak hujatan, makian, dan doa yang buruk-buruk disampaikan oleh para netizen untuk Ibunda Baby J di setiap kolom komentar yang menampilkan video kekerasan terhadap Baby J. Ada banyak juga ucapan simpati dan dukungan untuk yayasan yang berusaha mengambil hak asuh bayi malang ini dari ibunya yang memang untuk saat ini tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk mengasuh bayinya. Lanjutkan membaca Antara Baby Blues, Depresi, dan Psikosis

Review Buku Kehamilan: 100+ Hal Penting yang Wajib Diketahui Bumil oleh dr. Dian Indah Permana, SpOG

Masih soal ketidaktahuan mengenai apa saja yang penting diketahui dalam kehamilan, saya dan Ade memutuskan untuk mulai membekali diri dengan buku-buku kehamilan. Salah satu buku yang pertama kami beli adalah buku 100+ Hal Penting yang Wajib Diketahui Bumil ini.

Buku kehamilan terbitan Kawan Pustaka ini ditulis oleh seorang dokter kandungan yang terkenal di Depok, namanya dr. Dian Indah Permana, SpOG. Dokter Dian adalah Lanjutkan membaca Review Buku Kehamilan: 100+ Hal Penting yang Wajib Diketahui Bumil oleh dr. Dian Indah Permana, SpOG

[CELOTEH ADE VOL.2] Perjalanan Pengobatan APS

Sebelum didiagnosis APS, saya sudah mengalami berbagai diagnosis berbeda. Ada dokter yang bilang rematik jantung, flu tulang, dan terakhir yang mendekati adalah lupus. Tapi, diagnosis yang paling lama bertahan adalah rematik jantung. Bahkan sampai lulus kuliah saya masih mengira mengidap rematik jantung. Lanjutkan membaca [CELOTEH ADE VOL.2] Perjalanan Pengobatan APS

Keluhan Kehamilan Trimester Kedua: Keputihan

Memasuki trimester kedua, keluhan mual-muntah-lemah-tak-berdaya biasanya sudah mulai berkurang dirasakan para ibu hamil. Energi bumil pun biasanya mulai kembali normal. Saya pun begitu. Tapi, bukan berarti pada periode ini, kehamilan saya berjalan dengan gagah dan kuatnya. Mungkin karena pada dasarnya, saya bukan penganut gaya hidup sehat sebelum hamil, makanya saya mengalami banyak keluhan yang silih berganti. *maafkan Mandehmu, Nak*

Nah, salah satu keluhan kehamilan trimester kedua saya yang penuh drama yaitu keputihan.  Lanjutkan membaca Keluhan Kehamilan Trimester Kedua: Keputihan

Catatan dari Dokter: Hal-Hal yang Penting Diketahui Selama Kehamilan

Berhubung ini kehamilan pertama dan datangnya berupa kejutan tanpa persiapan, ada banyak hal yang saya dan Ade tidak ketahui. Bukan banyak lagi malah, we have no idea at all! Karena banyaknya ketidaktahuan tersebut, setiap kali kunjungan kontrol, baik itu ke bidan ataupun dokter, kami berdua menjadi pasangan bawel dan rempong. Kami menanyakan hal-hal yang seremeh-remehnya sampai mungkin para dokter yang memeriksaku jengah sendiri, haha.

Nah, dari sekian pertanyaan tersebut, hal-hal berikut ini adalah yang menurut saya penting untuk dicatat dan diketahui selama kehamilan.

Lanjutkan membaca Catatan dari Dokter: Hal-Hal yang Penting Diketahui Selama Kehamilan